Narkoba Barang Basi yang Kudu Dibasmi

Informasi dikumpulkan oleh relawan YAI
RULLY LARASATI
KONSULTASI: DR. ISKANDAR IRWAN HUKOM
Tabloit Cita Cinta

Gerakan anti narkoba makin marak. Bahkan hukum pun kini nggak segan-segan menjatuhkan hukuman mati buat yang terbukti mengedarkan barang laknat tersebut. Ironisnya pada saat yang sama, jumlah pemakai narkoba dan korban yang meninggal karena over dosis atau AIDS juga terus meningkat.

Kecanduan yang Fatal

Penggunaan barang yang bersifat candu ini sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 60-an, yaitu – canabis atau ganja. Makin berkembangnya zaman, urusan candu juga ikut-ikutan berkembang. Mulai, deh, muncul varian lain, seperti morfin, pil, ekstasi, heroin, dan yang terakhir, shabu. Penggunaannya nggak hanya diminum tapi juga dihirup dan disuntikkan. Nah, cara terakhir ini jugalah yang ikut ‘melestarikan’ penyakit AIDS, jika jarum suntiknya digunakan beramai-ramai.

“Perkenalan dengan narkoba, biasanya diawali dengan coba-coba. Kalau nggak ikutan, nanti dicela, akhirnya pertahanan kita ‘bobol’ juga. Selain itu biasanya pecandu kurang mendapat perhatian dari keluarga atau teman-temannya, sehingga dia mencari kesenangan dan mengurangi rasa jenuh dan stresnya dengan menggunakan NAZA,” jelas dr. Iskandar Irwan Hukom.

Sifat candu itu pula yang membuat korban menginginkannya terus dan terus, dengan dosis yang meningkat pula. “Bohong, tuh, kalau ada yang bilang kita bisa mengontrol pemasukan narkoba. Dalam pikirannya, secara fisik dia masih mampu menerima dosis tersebut tapi dilihat dari luarnya, badannya sudah makin hancur,” lanjut dr. Iskandar yang menjabat sebagai Vice President Campaign di Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB).

Si pecandu nggak hanya ‘menularkan’ kebiasaannya mengonsumsi NAZA, tetapi juga penyakit-penyakit berbahaya. Seorang pecandu berpotensi untuk mengalami gangguan syaraf pada organ tubuh seperti otak, lever, tulang dan gigi keropos, HIV/AIDS dan hepatitis C, yang bisa berkembang jadi kanker hati. “Pada wanita, pemakaian drugs ini akan menimbulkan gangguan siklus menstruasi, bahkan tidak mengalami menstruasi selama aktif memakai. Hal ini tentu akan mempengaruhi kesuburan, untuk sementara dia bisa mandul,” tambahnya kembali.

Paket Pecandu

Menurut Joyce Djaelani Gordon dari Yayasan Harapan Permata Hati Kita, seorang pecandu bakalan mendapat paket kehidupan sebagai berikut: narkoba, penyakit-penyakit mematikan, seks bebas, kriminalitas, dan kekerasan. Pemakai yang sudah kecanduan cenderung bakal menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginannya tersebut. “Kita harus waspada pada perilaku orang terdekat kita biar bisa ‘mendeteksi’ apakah dia memakai narkoba atau tidak,” kata dr. Iskandar kembali.

Misalnya pemakaian uang jajan yang berlebihan, tabungan habis dalam waktu singkat, uang kuliah nggak dibayarkan, atau pengeluarannya cenderung ‘keterlaluan’. Apalagi kalau barang-barang di rumah hilang. “Bisa juga dilihat kalau dia kelihatan nggak peduli dengan kebersihan tubuhnya atau diajak ngobrol nggak nyambung, susah konsentrasi, gampang mengeluh badannya terasa nyeri, atau mengurung diri di kamar. Semua itu merupakan ciri seorang pecandu,” dr. Iskandar menjelaskan.

Masih banyak perilaku yang bisa kita jadikan ‘pegangan’ seseorang merupakan pecandu atau bukan. Cenderung punya ‘hobi mengarang’ alias ngibul, gampang emosi dan curiga, sering berhalusinasi, melamun, sering kedatangan teman-teman baru yang belum dikenal baik sama keluarga, dan di kamarnya ditemukan barang-barang seperti korek api, jepitan, plester, kertas timah, sendok kecil, dan kartu telepon bekas.

“Selain itu, banyak kasus menunjukkan tingginya angka hubungan seks bebas karena bawah pengaruh drugs atau perempuan yang memang ‘pasang badan’ untuk mendapatkan narkoba,” tambahnya kembali.

Jika Sudah Kena

Kalau tanda-tanda tersebut makin jelas terjadi pada orang-orang terdekat kita, ambil tindakan dini sebelum terlambat. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih merasa malu dan bersikap pasrah jika salah satu anggota keluarga kita terkena narkoba. “Semua tingkat kecanduan masih bisa ditolong, tergantung pendekatan, metode, dan yang terpenting dari pecandunya itu sendiri. Jika keinginannya untuk sembuh sangat besar, didukung pula oleh keluarga, tentu proses penyembuhannya akan lebih cepat,” jelas dr. Iskandar.

* Siap menerima kenyataan bahwa orang-orang kesayangan Anda seperti sahabat, saudara, atau pacar terjerumus narkoba. Nggak usah menyangkal bahwa kenyataan tersebut merupakan aib, sehingga kita akan lebih mudah menolong mereka.
* Kenali masalah mereka. Seorang pecandu seringkali mengingkari bahwa mereka sedang bermasalah dan selalu mencari alasan atau pembenaran mengapa mereka menggunakannya. Beri mereka waktu untuk mengumpulkan tekad untuk bisa berhenti.
* Beri motivasi untuk segera mencari portolongan. Jangan dilepas atau diasingkan begitu saja karena akan membuat mereka lebih mengisolasi diri. Kita harus setia menemani dan mendukung semua usahanya sewaktu menjalani pengobatan. Jaga kebersamaan ini dengan terus memperhatikan keadaannya.
* Untuk sementara waktu, jauhkan mereka dari teman-teman sepergaulan. Soalnya sekali kembali ke lingkungan tersebut, memudahkan dia tergoda dan mencoba barang itu kembali..
* Jika bingung harus mulai dari mana, segera cari pertolongan dengan menghubungi Layanan Konseling Gratis Narkoba YCAB di (021) 566566-0 atau klik ke http://www.ycab.net untuk mendapatkan informasi tentang narkoba dan panti rehabilitasi yang ada.

Boks 1:
Biar Nggak Terjerumus

* Jangan pernah mencobanya
* Siapkan mental dan tekad untuk menolak kalau ditawarin.
* Selektif dalam memilih teman.
* Perbanyak informasi dari berbagai sumber tentang bahaya narkoba
* Berani bilang “TIDAK” kalau mendapat tawaran narkoba. Pakai alasan mulai dari yang lucu sampai yang seram. Kalau cara ini nggak manjur alihkan topik pembicaraan ke lainnya. Kalau masih nggak mempan juga tinggalkan tempat itu. Lebih baik cari teman baru yang lebih bersih daripada masa depan kita dikorbankan.
* Lakukan banyak kegiatan yang positif biar lebih pede.

Kata-Kata Jitu Buat Nolak

* “Sorry, ya. Kayaknya saya nggak butuh.”
* “Wah, saya nggak ada waktu untuk itu.”
* “No, thanks. Mendingan traktir saya makan, deh.”

Boks 2:
Mereka Yang Pernah Kena

Merembet ke Tindakan Kriminal
Berawal dari coba-coba dan tekanan dari teman-teman untuk memakai ganja dan heroin tanpa tahu akibatnya, membuat saya jadi pecandu dan tersiksa. Tulang rasanya ngilu luar biasa, air mata keluar terus padahal tidak sedang menangis. Tubuh juga selalu merinding kalau kena angin makanya saya jarang mandi. Saya mulai melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri dan menjual barang-barang di rumah biar bisa beli narkoba. Masuk rehabilitasi sudah berulang kali tapi saya kembali dan kembali lagi. Orangtua sampai pasrah melihat kelakuan saya. Satu kali, saya merasa capek, bosan, dan mikir, mau sampai kapan begini terus? Akhirnya saya sendiri yang minta disembuhkan dan sudah tiga tahun ini saya bersih dari narkoba dan menjadi konselor relawan di YCAB. (Timang, 23 tahun)

Lebih Senang Menyendiri
Saya pernah memakai putaw selama dua tahun karena pengaruh teman. Pertama kali memakal putaw, badan terasa enak tapi jadi malas mandi dan malas makan. Saya lebih senang menyendiri di kamar, jarang bersosialisasi, dan sulit tidur. Saya juga sering dimarahi orangtua karena minta uang terus. Kalau pengaruh putaw itu habis, badan saya langsung meriang, menggigil, dan muntah-muntah. Lama-lama saya capek dengan keadaan ini, saya ngaku sama nyokap kalau saya pakai dan mau berobat. Sekarang badan saya sudah lebih segar lagi. (Heidi, 23 tahun)

Advertisements