Mengapa meditasiku gak maju-maju?

Sutta ini menjelaskan mengapa meditasi seseorang tak berhasil. Landasan apa yang diperlukan supaya meditasi seseorang berhasil? Sang Buddha menjelaskan hal ini dengan begitu sederhananya.

Sumber: Meghiya Sutta (Udana IV.1 bagian dari Khuddaka Nikaya)

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di antara orang-orang Calika, di Gunung Calika. Adapun pada ketika itu YM Meghiya adalah pembantu Sang Bhagava. Kemudian YM Meghiya pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, berdiri di satu sisi. Sementara ia tengah berdiri di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava, “Aku, Bhante, ingin pergi ke Desa Jantu untuk mengumpulkan makanan sedekah.”

“Lakukanlah, Meghiya, apa yang engkau pikir sekarang waktunya untuk dilakukan.”

Kemudian di pagi hari, YM Meghiya, setelah mengenakan jubah dan membawa mangkuk serta jubah-luarnya, memasuki Desa Jantu untuk mengumpulkan makanan sedekah. Setelah pergi mengumpulkan makanan sedekah di Desa Jantu, sehabis bersantap, kembali dari pengumpulan makanan sedekahnya, ia pergi ke tepi Sungai Kimikala. Sementara ia tengah berjalan di sepanjang tepi sungai untuk melatih kakinya, ia melihat sebuah hutan mangga yang menyenangkan, mempesona. Melihatnya, pikiran ini timbul padanya: “Betapa menyenangkan dan mempesonanya hutan mangga ini! Ini adalah sebuah tempat yang ideal bagi seorang putra kaum yang mencita-citakan upaya, untuk berupaya dalam meditasi. Bila Sang Bhagava memberiku ijin, aku ingin berupaya dalam meditasi di hutan mangga ini.”

Maka YM Meghiya pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara ia tengah duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava, “Begini, Bhante, di pagi hari, setelah mengenakan jubah dan membawa mangkuk serta jubah-luarku, aku memasuki Desa Jantu untuk mengumpulkan makanan sedekah. Setelah pergi mengumpulkan makanan sedekah di Desa Jantu, sehabis bersantap, kembali dari pengumpulan makanan sedekahku, aku pergi ke tepi Sungai Kimikala. Sementara aku tengah berjalan di sepanjang tepi sungai untuk melatih kakiku, aku melihat sebuah hutan mangga yang menyenangkan, mempesona. Melihatnya, pikiran ini timbul padaku: ‘Betapa menyenangkan dan mempesonanya hutan mangga ini! Ini adalah sebuah tempat yang ideal bagi seorang putra kaum yang mencita-citakan upaya, untuk berupaya dalam meditasi. Bila Sang Bhagava memberiku ijin, aku ingin pergi ke hutan mangga tersebut untuk berupaya dalam meditasi.’ Bila Sang Bhagava, Bhante, mengijini ku, aku ingin pergi ke hutan mangga tersebut untuk berupaya dalam meditasi.”

Ketika ini dikatakan, Sang Bhagava menanggapi YM Meghiya, “Selama aku masih sendirian, bersemayamlah di sini sampai bhikkhu lainnya datang.”

Kedua kalinya, YM Meghiya berkata kepada Sang Bhagava, “Bhante, Sang Bhagava tidak punya sesuatu untuk dilakukan lebih lanjut, tidak punya sesuatu untuk ditambahkan kepada apa yang beliau telah lakukan. Aku, bagaimanapun, punya sesuatu untuk dilakukan lebih lanjut, sesuatu untuk ditambahkan kepada apa yang telah kulakukan. Bila Sang Bhagava mengijiniku, aku ingin pergi ke hutan mangga tersebut untuk berupaya dalam meditasi.”

Kedua kalinya, Sang Bhagava menanggapi YM Meghiya, ‘Selama aku masih sendirian, bersemayamlah di sini sampai bhikkhu lainnya datang.”

Ketiga kalinya, YM Meghiya berkata kepada Sang Bhagava, “Bhante, Sang Bhagava tidak punya sesuatu untuk dilakukan lebih lanjut, tidak punya sesuatu untuk ditambahkan kepada apa yang beliau telah lakukan. Aku, bagaimanapun, punya sesuatu untuk dilakukan lebih lanjut, sesuatu untuk ditambahkan kepada apa yang telah kulakukan. Bila Sang Bhagava mengijiniku, aku ingin pergi ke hutan mangga tersebut untuk berupaya dalam meditasi.”

“Karena engkau berbicara mengenai upaya, Meghiya, apa yang dapat kukatakan? Lakukanlah, Meghiya, apa yang engkau pikir sekarang waktunya untuk dilakukan.”

Kemudian YM Meghiya, bangkit dari duduknya, menyalami Sang Bhagava dan mengitarinya di sebelah kanan, pergi ke hutan mangga tersebut. Ketika tiba, setelah pergi jauh ke dalam hutan tersebut, ia duduk di kaki sebuah pohon untuk bersemayam hari itu.

Adapun ketika YM Meghiya tengah bersemayam di hutan mangga, ia terus menerus dilanda oleh tiga jenis pemikiran buruk, tak-cakap, yakni – pemikiran keinderawian, pemikiran jahat, dan pemikiran celaka. Kemudian YM Meghiya membatin: “Betapa menakjubkan! Betapa mengagumkan! Walaupun dulu lewat keyakinan aku berkelana dari kehidupan berumah ke tak-berumah, masih saja aku dikuasai oleh tiga jenis pemikiran buruk, tak-cakap, yakni – pemikiran keinderawian, pemikiran jahat, dan pemikiran celaka.” Keluar dari penyepiannya di sore hari, ia pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara tengah duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava, “Begini, Bhante, ketika aku tengah duduk di hutan mangga, aku terus menerus dilanda oleh tiga jenis pemikiran buruk, tak-cakap, yakni – pemikiran keinderawian, pemikiran jahat, dan pemikiran celaka. Kemudian aku membatin: ‘Betapa menakjubkan! Betapa mengagumkan! Walaupun dulu lewat keyakinan aku berkelana dari kehidupan berumah ke tak-berumah, masih saja aku dikuasai oleh tiga jenis pemikiran buruk, tak-cakap, yakni – pemikiran keinderawian, pemikiran jahat, dan pemikiran celaka.'”

“Meghiya, bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, lima hal membawanya pada kematangan. Lima yang mana?

“Begini, Meghiya, bhikkhu tersebut memiliki para rekan, sahabat, dan kawan yang mengagumkan. Bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, inilah hal pertama yang membawanya pada kematangan.

“Selanjutnya, Megghiya, bhikkhu tersebut saleh. Ia hidup terkendali sesuai dengan Patimokkha, sempurna dalam perilaku dan lingkup kegiatannya. Ia melatih dirinya, setelah menjalani aturan-aturan latihan, melihat bahaya dalam kesalahan terkecilpun. Bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, inilah hal kedua yang membawanya pada kematangan.

“Selanjutnya, Meghiya, ia dapat mendengar sekehendaknya, dengan leluasa dan tanpa kesulitan, pembicaraan yang benar-benar arif dan mendukung pada terbukanya benak, yaitu, pembicaraan mengenai sedikitnya keinginan, mengenai kepuasan hati, mengenai penyepian, mengenai ketak-terjeratan, mengenai pembangkitan semangat, mengenai kesalehan, mengenai konsentrasi, mengenai kebijaksanaan, mengenai pembebasan, dan mengenai pengetahuan serta visiun pembebasan. Bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, inilah hal ketiga yang membawanya pada kematangan.

“Selanjutnya, ia menjaga semangatnya terbangkitkan untuk meninggalkan hal-hal (batiniah) yang tak-cakap dan untuk mengambil hal-hal yang cakap. Ia tabah, teguh dalam usahanya, tidak mengelakkan tugas-tugasnya berkenaan dengan hal-hal yang cakap. Bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, inilah hal keempat yang membawanya pada kematangan.

“Selanjutnya, ia penuh kebijaksanaan, dikaruniai dengan kebijaksanaan mengenai kemunculan dan keberlaluan — mulia, menembus, mengarah pada habisnya penderitaan dengan benar. Bagi ia yang pembebasan benaknya masih belum matang, inilah hal kelima yang membawanya pada kematangan.

“Meghiya, ketika seorang bhikkhu memiliki para rekan, sahabat, dan kawan yang mengagumkan, akan dapat diharapkan bahwa ia akan berbudi-luhur, akan hidup terkendali sesuai dengan Patimokkha, sempurna dalam perilaku dan lingkup kegiatannya, dan akan melatih dirinya, setelah menjalani aturan-aturan latihan, melihat bahaya dalam kesalahan terkecilpun.

“Ketika seorang bhikkhu memiliki para rekan, sahabat, dan kawan yang mengagumkan, akan dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mendengar sekendaknya, dengan leluasa dan tanpa kesulitan, pembicaraan yang benar-benar arif dan mendukung pada terbukanya benak, yaitu, pembicaraan mengenai sedikitnya keinginan, mengenai kepuasan hati, mengenai penyepian, mengenai ketakterjeratan, mengenai pembangkitan semangat, mengenai kesalehan, mengenai konsentrasi, mengenai kebijaksanaan, mengenai pembebasan, dan mengenai pengetahuan serta visiun pembebasan.

“Ketika seorang bhikkhu memiliki para rekan, sahabat, dan kawan yang mengagumkan, akan dapat diharapkan bahwa ia akan menjaga semangatnya terbangkitkan untuk meninggalkan hal-hal yang tak-cakap, dan untuk mengambil hal-hal yang cakap — tabah, teguh dalam usahanya, tidak mengelakkan tugas-tugasnya berkenaan dengan hal-hal yang cakap.

“Ketika seorang bhikkhu memiliki para rekan, sahabat, dan kawan yang mengagumkan, akan dapat diharapkan bahwa ia akan penuh kebijaksanaan, dikaruniai dengan kebijaksanaan mengenai kemunculan dan keberlaluan – mulia, menembus, mengarah pada habisnya penderitaan dengan benar.

“Dan selanjutnya, sewaktu bhikkhu tersebut teguh dalam lima hal ini, terdapat empat hal tambahan yang ia hendaknya kembangkan: Ia hendaknya mengembangkan (perenungan akan) keburukrupaan agar dapat meninggalkan nafsu. Ia hendaknya mengembangkan cinta kasih agar dapat meninggalkan kehendak jahat. Ia hendaknya mengembangkan kesadaran atas masuk-dan-keluarnya nafas agar dapat memotong pemikiran. Ia hendaknya mengembangkan pencerapan mengenai ketidakkekalan agar dapat menumbangkan kecongkakan, ‘aku ada.’ Bagi seorang bhikkhu yang mencerap ketidakkekalan, pencerapan mengenai bukan-diri menjadi kokoh. Orang yang mencerap bukan-diri meraih tumbangnya kecongkakan, ‘aku ada’ – meraih Nibbana di sini dan sekarang.”

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini:

Pemikiran sepele maupun pemikiran halus,
ketika diikuti, mengobarkan pikiran.
Tak memahami cara bekerjanya pikiran,
ia tunggang langgang, karena lalai mengendalikannya.

Namun memahami cara bekerjanya pikiran,
ia yang tekun dan seksama akan mengendalikannya dari
hal yang mengobarkan pikiran,
maka Ia yang telah bangun akan
membiarkan pikiran seperti itu berlalu tanpa jejak.

Advertisements